DETIK-DETIK MENJELANG WAFAT RASULULLAH

Written by Adib Poetra Surodiwiryo on Senin, 18 Maret 2013 at 16.20





SAAT  itu hari jum’at setelah waktu Ashar, bertepatan dengan musim Haji. Di padang Arafah dengan mengendarai seekor unta, Rasulullah saw menerima wahyu :
 “pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian,dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan Aku relakan Islam sebagai agama kalian.”(QS.al Maidah: 4)”
Tatkala Nabi menerima ayat tersebut, beliau tidak kuat menerimanya, mengingat kandungan dan makna yang ada pada ayat itu. Maka beliau bersandar pada untanya, kemudian untanya pun duduk. Maka turunlah malaikat jibril dan berkata:

        “Hai muhammad, sungguh pada hari ini telah sempurna urusan agamamu, selesai apa yang diperintahkan oleh Allah dan demikian pula apa yang dilarang-Nya. Maka kumpulkanlah para sahabatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa saya tidak akan turun lagi kepadamu sudah hari ini.”
Kemudain Nabi saw bertolak dari makkah menuju madinah, lalu mengumpulkan para sahabatnya dan membacakan ayat tersebut, serta memberitahukan apa-apa yang dikatakan jibril as.
Maka, para sahabat menjadi gembira sambil berkata: “Agama kita telah sempurna! “ Tetapi Abu Bakar saat itu merasa sedih, lalu pulang menutup pintu rumahnya. Dia menangis disepanjang siang dan malam. Berita ini didengar oleh para sahabat yang lain, kemudian mereka berkumpul dan bersama-sama datang kerumah Abu Bakar. Serta bertanya:
       “Hai abu Bakar, mengapa engkau menangis pada suasana yang menggembirakan pada saat Allah telah menyempurnakan agama kita? “
Abu Bakar menjawab: “wahai para sahabatku, kalian tidak tahu musibah yang menimpa kalian. Tidakkah kalian sadar musibah yang menimpa kalian. Tidak kah kalian sadar jika suatu perkara telah sempurna maka akan menjadi tampak kekurangannya? Ayat ini juga menunjukkan perpisahan kita dengan Nabi saw, keadaan Hasan dan Husen menjadi yatim, para istri beliau menjadi janda …!!
Maka terdengarlah jeritan para sahabat, dan semuanya menangis. Sebagian sahabat yang lain ada yang mendengar suara tangis dikamar Abu Bakar, dan mereka segera pergi menghadap Nabi saw seraya bertanya:

        “Wahai Rasulullah, kami tidak tahu, mengapa kami mendengar para sahabat sama menangis dan menjerit di kediaman Abu Bakar?”
Maka berubahlah wajah Nabi saw, serta merta beliau berdiri dan segera pergi kepada para sahabat pada kediaman Abu Bakar. Beliau menemukan para sahabat yang dalam keadaan betul22 menangis dan menjerit. Kemudian beliau bertanya kepada mereka:
“Apakah gerangan yang menyebabkan kalian menangis ?”
“Abu Bakar mengatakan bahwa, ‘saya telah membau dari ayat ini sebagai tanda kematian Rasulallah’; Apakah ayat ini menunjukkan akan wafat engkau ?” kata sahabat Ali ra.
“Apa yang dikatakan oleh Abu Bakar itu benar , dan sungguh telah dekat waktuku untuk meninggalkan kalian. Serta telah sampai pula saat perpisahanku dengan kalian semua,” jawab Nabi saw.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang paling cerdas diantara sahabat22 yang lain. Dan ketika Abu Bakar mendengar yang demikian itu, beliau menjerit dengan keras sekali, sampai dia tersungkur pingsan. Sedangkan sahabat Ali ra, menjadi bergetar tubuhnya. Beberapa sahabat yang lain menjadi ribut, merasa ketakutan semua dan kesemuanya menangis dengan keras, sihingga gunung22 pun ikut menangis, batu-batu dan semua malaikat yang berada dilangit, cacing dan semua binatang baik yang ada didarat maupun dilaut tak ketinggalan turut menangis.
Kemudian Nabi saw menjabat tangan para sahabatnya satu persatu. Kemudian meninggalkan mereka sambil menangis pula.
Setelah turunnya ayat tersebut Nabi saw masih hidup selama 81 hari. Di pihak lain ada yang mengatakan bahwa beliau mengalami hidup selama 50 hari setelah turunnya ayat:
“Mereka meminta keterangan kepadamu tentang kalalah. Katakanlah:
Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (seorang yang sudah tidak beranak dan tidak berbapak)”.(QS. As-Nisa: 176)
Ada juga yang berpendapat bahwa beliau masih hidup selama 35 hari sesudah turunya ayat:
“ Sungguh telah datang  kepada kalian seorang utusan dari kalian sendiri” (QS. At-Taubah:  129)
sebagian pendapat yang lain ada yang mengatakan bahwa beliau masih hidup masih 21 hari setelah turunnya ayat:
“Takutlah kamu sekalian pada hari kalian semua dikembalikan pada Allah (QS. Al Baqarah: 281)
Ini adalah ayat alquran yang paling akhir diturunkan kemudian Rasulullah naik ke mimbar dan berkhutbah dengan serius sehingga seluruh mata menangis, seluruh hati menjadi takut dan cemas, gemetar, dan seluruh badan menggigil, saat beliau menyampaikan berita yang gembira sekaligus mencekam.

***
Riwayat dari Ibnu Abbas ra; bahwa Nabi saw pada saat sudah dekat dengan ajalnya, beliau menyuruh Bilal agar adzan untuk mengerjakan shalat. Maka berkumpullah para sahabat muhajirin dan anshar ke masjid Rasulullah saw. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat dengan ringan bersama mereka, lalu belia naik mimbar, membaca hamdalah/memuji kepada Allah dan berkhutbah dengan kalimat yang jelas sehingga hati menjadi tergetar, dan mata pun menangis, dan beliau bersabda:
“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku, keberadaanku atas diri kalian adalah sebagai Nabi  dan penasihat serta sebagai orang yang mengajak kepada jalan Allah dengan izin-Nya. Dan bagi kalian aku ibarat seperti saudara kandung yang penuh kasih sayang dan seperti ayah yang belas kasih. Barang siapa yang mempunyai hak atas diriku yang dapat dituntut, hendaklah berdiri dan membalas kepadaku sebelum aku dituntun dihari kiamat.
Ternyata tak seorang pun ada yang berdiri, sehingga beliau mengulangi untuk kedua, sampai ketiga kali.
Maka berdirilah seorang laki22 yang bernama Ukasyah bin Muhshan dihadapan Nabi saw:
“Demi ayah dan ibuku ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan  kepada  kami  berkali-kali, tentu aku tidak mengemukakan hal ini. Sungguh aku pernah bersama engkau disaat perang Badar, sedang untaku mengikuti untamu. Maka aku turun dari unta dan mendekatimu agar aku bisa mencium pahamu. Tiba-tiba engkau menggangkat tongkat dan engkau pukulkan pada unta agar berjalan cepat serta kau pukulkan pula ke tulang rusukku. Aku tidak tahu, apakah Rasulullah sengaja, ataukah hendak memukul untamu sendiri?’ kata Ukaysah
“Wahai Ukasyah, utusan Allah dijauhkan dari sengaja memukulmu.” jawab Rasulullah, lalu berikutnya Rasulullah bersabda. “Wahai Bilal. Pergilah engkau kerumah Fatimah dan ambilkan tongkatku!”
Kemudian Bilal keluar dari masjid sambil meletakkan tangannya diatas kepala dan berkata kepada dirinya sendiri: “Inilah Rasulullah yang telah bersedia dirinya sendiri diqshash (dibalas).”
Setibanya dirumah Fatimah, dia mengetuk pintu.
“Siapa dipintu?” Tanya Fatimah,
“Saya, saya datang kesini untuk mengambilkan tongkat Rasulullah.” Jawab Bilal.
“Hai Bilal, untuk apa ayah memerlukan tongkat?” Tanya Fatimah
“Ayahmu benar22 utusan Allah, Fatimah! Beliau menyediakan dirinya untuk diqishash.” jawab Bilal.
“Hai Bilal, siapakah orang yang sampai hati hendak mengqhishash  Rasulullah?” Tanya Fatimah
Kemudian Bilal mengambil tongkat dan terus pergi menuju masjid, menyerahkan tongkat kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah pun menyerahkan tongkat itu kepada  Ukasyah.
Menyaksikan peristiwa yang demikian itu, maka Abu Bakar dan Umar segera berdiri sambil berkata:
             “Wahai Ukasyah. Kami berdua berdiri dihadapanmu. Maka qishashlah kami, dan jangan engkau mengqishash Rasulullah!” katanya.
Kemudian Rasulullah menegur kedua sahabatnya: “Wahai Abu Bakar dan Umar, duduklah kalian berdua! Sungguh Allah SWT telah mengetahui tempat kalian berdua.”
Selanjutnya ali ra berdiri seraya berkata:
“Hai ukasyah, selama hidup aku selalu di samping Rasulullah saw. Aku tidak sampai hati melihatmu mengqishash Rasulullah saw, dan inilah punggungku dan perutku, qishashlah dengan tanganmu dan jilidlah saya dengan tanganmu!”
Sabda Rasulullah:”Wahai Ali, duduklah! Sungguh Allah telah mengetahui kedudukan serta niatmu.”
Kemudian Hasan  dan Husein berdiri seraya berkata:
“Hai Ukasyah, tidakkah engkau tahu bahwa kami berdua adalah cucu Rasulullah? Maka qishashlah kami! Hal ini sama saja dengan mengqishash Rasulullah.”
 Rasulullah: Hai buah hatiku, duduklah kalian berdua!”
Selanjutnya Rasulullah saw berkata kepada Ukasyah: “Pukullah jika engkau hendak memukul!”
“Wahai Rasulullah, engkau telah memukul saya sedangkan saya tidak berpaikaian.”jawab Ukasyah.
Maka Rasulullah saw membuka pakaiannya, sehingga kaum muslimin yang hadir menjerit histeris sambil menangis (marah kepada Ukasyah dan kasihan kepada Rasulullah).
Tatkala Ukasyah melihat tubuh Rasulallah yang putih itu, maka dia segera menubrukannya dan menciumi punggung Rasulallah seraya berkata: “saya tebus engkau dengan jiwaku. Hai Rasulullah siapakah orangnya yang sampai hati menqhishash engkau? Sungguh saya melakukan yang demikian ini dengan harapan agar badan saya bersentuhan dengan badanmu yang dimuliakan, dan agar tuhan memelihara diriku dari siksa neraka dengan sebab kehormatanmu.”
Kemudian Rasulullah bersabda :”Ketahuilah, barang siapa yang ingin melihat ahli surga hendaklah dia melihat orang ini.”
Maka berdirilah kaum muslimin dan menciumi kedua mata Ukasyah sambil berkata “Keuntungan besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan bertemu Rasulullah saw di surga :
“Ya Allah, Mudahkanlah kami mendapatkan syafa’atnya dengan kemuliaan dan keagungan-Mu.”

***

Kata Ibnu Mas’ud: “Ketika Rasulullah saw telah dekat dengan ajalnya, beliau mengumpulkan kami semua dirumah ibunda ‘ Aisyah, kemudian beliau memperhatikan kami semua sampai22 bercucuran air mata dan bersabda : ‘Selamat datang kalian semua dan semoga kalian dibelaskasihani oleh Allah…….Saya berpesan agar kalian semua bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat diriku dikembalikan kepada Allah dan menempati surga-Nya. Jika telah tiba saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan, Fadhlan bin Abas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang membantu keduanya. Kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri jika kalian semua menghendaki. Atau dengan kain Yaman yang putih. Jika kalian semua memandikan aku, maka letakkanlah aku diatas balai tempat tidur dirumahku ini dekat dengan lobang lahatku. Setelah itu …keluarlah kalian semua barang sejenak meninggalkan aku. Pertama yang menshalati aku adalah Allah SWT, kemudian Malaikat Jibril, Malikat Israfil, Malaikat Mikail, dan Malaikat pencabut nyawa beserta para pembantunya, selanjutnya semua Maliakat yang lain. Setelah itu masuk kalian semua dengan berkelompok-kelompok dan lakukan shalat untukku….”
“Setelah mereka mendengarkan ucapan perpisahan Nabi saw, maka para Sahabat menjerit histeris dan menangis sambil berkata : Wahai Rasulullah, engkau adalah seorang utusan kami semua. Apabila engkau telah pergi dari kami semua, menjadi kekuatan dalam perkumpulan kami dan sebagai penguasa yang mengurus permasalahan kami. Apabila engkau telah pergi dari kami semua, kepada siapakah kami kembalikan semua persoalan itu?”
Rasulullah saw bersabda: Telah aku tinggalkan kalian semua pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang. Dan telah kutinggalkan pada kalian dua penasihat, yang satu pandai bicara dan yang satunya diam saja. Yang pandai bicara adalah Al- Qur’an dan yang diam adalah kematian. Apabila ada persoalan yang sulit bagi kalian, maka kembalilah kalian pada Qur’an dan sunnah: dan jika hati kalian telah keras membatu, maka lunakkanlah ia dengan mengambil tamsil dari ikhwal mati.”
Setelah itu Rasulullah saw menderita sakit mulai akhir bulan safar selama 18 hari dan sering dijenguk oleh para sahabat.
Adapun penyakit yang dideritanya sejak semula sampai akhir hayatnya adalah pusing22. Rasulullah mulai diutus pada hari senin, dan akhir hayatnya pun hari senin .
Ketika pada hari senin, penyakit beliau semakin memberat. Maka setelah Bilal adzan shubuh, dia pergi mendekati pintu Rasulullah  saw sambil mengucapkan salam “Assalamu’alaikum’ ya Rasulullah!”
“Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri, “jawab Fatimah. Kemudian Bilal kembali masuk masjid dan dia tidak memahami kata22 Fatimah. Dan ketika waktu shubuh semakin terang, Bilal kembali datang menghampiri pintu Rasulullah saw dan bersalaman seperti semula.
“Masuklah hai Bilal, Sungguh aku sedang sibuk terhadap diriku sendiri dan penyakitku rasanya semakin berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar shalat berjama’ah orang bersama orang22 yang hadir!”jawab Rasulullah ketika mendengarkan suara Bilal.
Bilal pun keluar sambil menangis dan meletakkan tangan diatas kepala, sambil mengeluh: “Aduh musibah, susah, terputus harapan, habis sudah tempat tujuan, andaikan ibuku tidak melahirkan aku ….” Bilal terus masuk masjid dan berkata: “Hai sahabat Abu Bakar, sungguh Rasulullah telah menyuruh aku agar engkau shalat bersama-sama dengan orang22 yang hadir, karena beliau sibuk mengurus dirinya sendiri yang sedang sakit”
Ketika Abu Bakar melihat mihrab kosong dan Nabi saw tidak hadir, maka dia menjerit karena tidak tahan sehingga dia jatuh tersungkur dan pingsan. Maka jadi ributlah kaum muslimin yang ada pada saat itu, sehingga Rasulullah saw yang mendengar suara mereka bertanya: “Hai Fatimah, kenapa pagi ini, dan apakah keributan disana itu?”
“Keributan itu adalah kaum muslimin sendiri, karena engkau tidak hadir, “jawab Fatimah.
Maka Rasulullah memanggil Ali dan Fadlan bin Abas. Kemudain beliau bersandar pada keduanya dan keluar menuju masjid, lalu shalat bersama-sama dengan dua rakaat pada hari senin itu. Selesai shalat beliau berpaling, berhadapan orang banyak dan bersabda : “Wahai kaum muslimin, kalian semua dalam permasalahan dan pertolongan Allah. Oleh karenanya, bertaqwalah kepada Allah serta mentaati-Nya. Sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia pada hari ini, dan hari ini adalah hari pertamaku diakhirat dan hari terakhirku didunia …. “ lalu Rasulullah berdiri dan pulang kerumahnya.
Malaikat pencabut nyawa pun turun dengan bentuk seperti orang arab badui desa, sambil mengucapkan salam:
Assalamu’allaikum ya ahla baitin nubuwwati wa ma’ danirrisalaati a adkhulu ? = Semoga keselamatan tetap kepada kalian semua wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?”
“Hai fulan, sungguh Rasulullah sedang sibuk dengan deritanya,” sahut Fatimah.
Kemudian malaikat itu memanggil yang kedua kalinya :
“Assalamu’alaikum ya Rasulullah wa yaa ahla baitinubuwwati a adkhulu? =Semoga keselamatan tetap untukmu wahai Rasulullah, dan untuk semua penghuni rumah kenabian. Apakah saya boleh masuk?”
Maka Rasulullah mendengarkan suara malaikat itu, dan bersabda: “Hai Fatimah, siapakah yang berada dipintu itu?”
“Seorang Badui yang memanggil, dan telah aku katakana; “bahwa Rasulullah sedang sibuk dengan sakitnya,” jawab Fatimah.
Kemudian malaikat itu memanggil seperti semula untuk yang ketiga kalinya, maka dia memanggil dengan tajam kepadaku, sehingga badanku menggigil dan gemetar, hatiku terasa takut sehingga bergeraklah sendi-sendi lenganku seakan-akan berpisah satu sama lain serta berubahlah warnaku menjadi pucat.”
“ Tahukah engkau wahai Fatimah, siapa dia?” Tanya Rasulullah saw.
“Tidak,” jawab Fatimah.
“Dia adalah malaikat yang mencabut semua kelezatan, yang memutus segala macam nafsu syahwat, yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta yang meramaikan keadaan kubur,” sabda Rasulullah saw.
Maka menangislah Fatimah ra dengan suara yang sangat keras sambil berkata: “Aduh celaka nantinya, sebab kematian nabi yang terakhir dan sungguh merupakan bencana besar dengan wafatnya orang yang paling bertakwa, terputusnya pimpinan dari pimpinan orang22 yang suci-suci, serta penyesalanlah bagi kami semua karena putusnya wahyu dari langit, maka saya sungguh terhalang mendengarkan perkataanmu sesudah hari ini.”
“Jangan engkau menangis Fatimah, karena sesungguhnya engkaulah diantara keluargaku adalah yang pertama berjumpa denganku. Sabda Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: “Masuklah engkau, hai Malaikat Maut ….!
Maka malaikat pun masuk sambil mengucapkan “ Assalamua’alaika yaa Rasulullah!”
“Wa’alaikassalaamu, hai Malaikat percabut nyawa. Engkau datang untuk berkunjung atau mencabut nyawa?” Jawab Rasulullah!”
“Saya datang untuk berkunjung dan mencabut nyawa, sekiranya engkau mengizinkan. Kalau tidak, maka saya akan kembali,” jawabnya.
“Hai Malaikat pencabut nyawa, dimana Jibril engkau tinggalkan?” Tanya  Rasulullah saw.
“Dia saya tinggalkan dilangit dunia, dan para malaikat sedang menghormat dan memuliakan dia,” jawab malaikat pencabut nyawa.
Tidak bersalang lama, Malaikat Jibril as pun turun dan duduk pada arah kepala Rasulullah saw.
“Tahukah engkau bahwa ajalku telah dekat?” tanya Rasulullah.
“Ya, tahu, “ jawab Jibril.
Sabda Rasulullah saw: “Beritahkanlah kepadaku kemuliaan yang mengembirakanku disisi Allah!”
“Sungguh pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah berbaris rapi menanti ruhmu dilangit, pintu-pintu surga telah dibuka dan para bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu,” jawab Jibril.
“Alhamdulillah!” kata Nabi saw. Dan beliau berkata pula, “ Hai Jibril, berilah berita tentang umatku dihari kiamat!”
“Saya diberi tahu, bahwa sesungguhnya Allah SWT berfirman: ‘Sungguh aku larang semua nabi masuk kedalam surga, sehingga engkau masuk lebih dahulu, dan Aku larang memasukinya juga semua umat sehingga umatmu masuk terlebih dahulu,” kata Jibril.
“Sekarang telah puas hatiku dan hilang rasa sedihku,” kata nabi saw. Kemudian beliau berkata pula: “Hai Malaikat pencabut nyawa, mendekatlah kepadaku!”
Malaikat pencabutnya nyawa pun mendekat dan mulai melaksanakan tugas mencabut ruh beliau dan ketika ruh sampai diperut, nabi saw berkata : “Hai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati itu.:
Maka Malaikat Jibril memalingkan wajahnya dari Nabi saw.
“Hai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?” kata nabi saw.
“Wahai kekasih Allah, siapa orangnya yang tega melihat wajahmu, sedangkan dirimu dalam keadaan sekaratul maut?” jawab Jibril.
Kata Anas bin Malik ra:
“Tatkala ruh Nabi saw sampai di dada,beliau bersabda: Aku berwasiat agar kalian semua memelihara shalat dan apa-apa yang menjadi telah menjadi tanggung jawab kalian.” Beliau juga masih terus berwasiat dengan kedua hal tersebut sampai putuslah perkataanya.”
Kata Ali ra:
“Sungguh pada saat akhir hayat Rasulullah menjelang menggerakkan kedua bibirnya dua kali, dan ketika saya mendengar(mendekatkan telinga), saya dengar beliau mengucap dengan pelan : “Umatku, umatku…”
Maka ruh Rasulullah saw dicabut tepat pada hari senin bulan Rabi’ul Awal.
***
Diceritakan, bahwa ketika Ali ra membaringkan jenazah Rasulullah saw untuk dimandikan, tiba-tiba ada suara dari sudut rumah yang mengatakan keras sekali: “Muhammad jangan engkau mandikan, karena dia sudah suci dan disucikan.”
Maka timbul keraguan pada diri Ali terhadap suara itu. “Siapa engkau sebenarnya? Karena sesungguhnya Nabi saw telah memerintah untuk memandikan,” kata Ali.
Tiba-tiba ada suara yang lain yang mengatakan: “Wahai Ali, mandikanlah! dia (Muhammad)! Karena sesungguhnya suara pertama tadi, adalah suara iblis terkutuk, sebab dengki terhadap Muhammad. Maka  dia bermaksud agar beliau dimasukkan ke dalam kubur tanpa dimandikan.
Kata Ali: “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, sebab engkau telah memberitahu bahwa tadi suara iblis terkutuk, maka siapakah engkau?”
“Saya adalah Nabi khidhir, menghadiri jenazah Nabi Muhammad saw,” suara itu menjawab.
Kemudian Ali ra memandikan jasad Nabi Muhammad saw, sedangkan Fadhal bin Abas dan Usamah bin Zaid ra yang menuangkan air, dan Malaikat Jibril telah datang dengan membawa obat kehancuran jasad dari surga. Kemudian mereka mengkafani beliau dan mengkuburkannya dikamar Aisyah ra di tengah malam, malam rabu; ada yang mengatakan malam Selasa, sedang Aisyah ra berdiri diatas kubur Nabi saw sambil berkata :
“Wahai orang yang belum pernah mengenakkan pakaian dari sutera, dan belum pernah tidur diatas ranjang yang empuk! Wahai orang yang keluar dari dunia sedang perutnya belum pernah kenyang meski roti dari gandum kasar! Wahai orang yang memilih tidur diatas tikar dari pada ranjang! Wahai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut siksa neraka sa’ir ….”#


adsbanner

My Blog List

search

subscribe

Blogroll

About

Blogger templates

Site Info













































Text

About

Pages

Twitter

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Followers

About the author

This is the area where you will put in information about who you are, your experience blogging, and what your blog is about. You aren't limited, however, to just putting a biography. You can put whatever you please.